A'udhu-bi-llahi mina shaytani-r-rajim Bismi-llahi-r-Ra'hmani-r-Ra'him Allah-umma Salli 'ala Sayyidina Mohammadin al-Fati'hi limaa ughliqa, wal khatimi limaa sabaqa, Naasiri-l-'Haqqi bil-'Haqqi wal Hadi ilaa Siratiqa-l-Mustaqim, wa 'ala aalihi 'haqqa Qadrihi wa Miqdaarihi-l-'Adhim

search....

Sabtu, 11 Februari 2012

Menarik Rambut Dalam Tepung


Seorang Guru Sufi mengatakan, “Selesaikan segala masalah dengan bijaksana, ibarat menarik rambut dalam tepung, rambut di tarik namuan tepung tidak retak”. Perumpamaan sederhana namun mengandung makna yang dalam dan kita seringkali melupakan hal-hal yang sederhana.
Setiap manusia pasti mengalami masalah baik besar maupun kecil sebagai sesuatu yang wajar dan sempurna dialami oleh setiap orang. Kita tidak membicarakan masalah yang setiap hari datang, namun kita membicarakan bagaimana menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi dengan cara bijaksana. Tidak mungkin masalah bisa diselesaikan dalam keadaan emosi tidak stabil. Ada sebuah nasehat bijaksana, “Jangan pernah mengambil keputusan disaat anda sedang marah”. Kenapa? Karena keputusan yang keluar pada saat marah atau emosi tidak stabil biasanya cenderung tidak bijaksana dan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Ketika seorang suami misalnya marah dengan istri maka dengan mudah dia mengucapkan kata “Cerai” begitu juga istri dalam keadaan marah tanpa berfikir panjang dengan mudah pula ingin meninggalkan suaminya. Saya mengambil contoh  suami atau istri karena memang dalam kehidupan rumah tangga seringkali kita mengalami pertengkaran. Orang yang mudah membuat kita tersinggung adalah orang yang dekat dengan kita dan orang yang kita cintai. Cerai adalah perbuatan yang halal tapi dimurkai Tuhan artiya kalau kita bercerai berarti tanpa sadar membuka pintu untuk dimurkai oleh Tuhan.
Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, itulah prinsip yang harus kita pegang dalam hidup sehingga ketika kita mengalami masalah maka yang kita lakukan bukan lari dari masalah akan tetapi dengan bijaksana dan dengan kepala dingin berusaha menyelesaikan masalah.
Cara Menyelesaikan masalaha ada 3 yaitu : Dengan Otot, dengan Otak dan dengan Rohani.
Menyelesaikan masalah dengan Otot artinya anda menyesaikan masalah secara fisik dengan segala kemampuan anda dan kemampuan fisik manusia itu terbatas. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan fisik karenanya dibutuhkan penyelesaian cara berikutnya yaitu dengan memakai otak atau kemampuan berfikir. Perpaduan antara kemampuan fisik dan otak ini membuat setiap masalah bisa diselesaikan dengan baik dan bijaksana.
Disamping menyelesaikan masalah dengan kemampuan fisik dan fikiran kita, atau lagi kekuatan yang sangat dahsyat diluar kemampuan fisik dan kemampuan fikiran yaitu Menyelesaikan Masalah secara Rohani lewat doa, zikir dan mujanat kepada Allah SWT. Menyerahkan sepenuhnya segala ikhtiar (usaha) kepada Allah SWT dan selalu berpandangan baik terhadap Allah SWT. Mukjizat Para Nabi dan Karomah Para Wali yang terjadi diluar kemampuan fisik dan fikiran manusia itu adalah berkat kedekatan mereka dengan Allah, berkat munajat’ doa dan zikir mereka yang istiqamah.
Saya, anda dan kita semua seringkali mengalami keajaiban dalam hidup berupa hal-hal yang terjadi diluar kemampuan fikiran kita baik berupa karunia rizki ataupun selesainya masalah yang kita alami dengan cara diluar dugaan kita. Orang yang selalu pasrah dan tawakal kepada Tuhan akan mengalami banyak keajaiban dalam hidupnya sesuai janji Allah dalam Al Qur’an “Dan barang siapa ber Tawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya”.
Ketika masalah yang datang kepada anda begitu besar dan anda merasa tidak sanggup untuk menyelesaikannya, berarti Tuhan sedang membuka pintu kepada anda untuk berserah diri pada-Nya menyelesaikan persoalan anda dengan cara terakhir yaitu dengan cara Rohani.
Setiap masalah yang datang tidak lain membuat kita menjadi lebih kuat dan tangguh, menjadi kita lebih dewasa dan bijaksana. Maka selesaikan setiap masalah anda dengan tiga cara, Otot, Otak dan Rohani dan menyelesaikannya ibarat “Menarik Rambut Dalam Tepung, rambut berhasil ditarik sementara tepung tidak retak. Menyelesaikan masalah dengan cara bijaksana sehingga tidak menimbulkan masalah baru.

Kamis, 09 Februari 2012

Hikmah Kisah Nabi Musa Dan Khidhir

Ketika nabi musa as berada ditengah- tengah bani Israel , datanglah seseorang yang bertanya kepadanya.’’ Wahai nabi, apakah kamu tahu orang yang lebih berilmu daripada kamu?
Ketika nabi musa as berada ditengah- tengah bani Israel , datanglah seseorang yang bertanya kepadanya.’’ Wahai nabi, apakah kamu tahu orang yang lebih berilmu daripada kamu?
“tidak” jawab musa as. Kemudian Alloh menegurnya, bahwa ada orang yang lebih berilmu dari pada kamu(musa), ia adalah khidir as. Musa lalu (berdoa) memohon petunjuk kepada Alloh swt agar dapat menemui orang tersebut. Lalu, Alloh jadikan ikan sebagai tandanya. Dikatakan kepadanya, ‘’ jika kamu kehilangan ikan ini, kembalilah dan kamu akan menemuinya.’’
Nabi musa asa mengikuti jejak ikan itu di laut ditemani oleh asistennya. Setelah lama berjalan asistenya berkata kepadanya: tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung dibatu tadi, sesungguhnya aku lupa untuk menceritakan tentang ikan itu. Tidak ada yang dapat melupakanku kecuali syetan.’’itulah tempat yang kita cari!” kata musa . lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Akhirnya mereka( musa dan asistennya) bertemu dengan khidir as. Musa berkata: ‘’bolehkah aku mengikutimu supaya kamu menagajarkan ilmu kepadaku!’’.
‘’kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku!’’ kata khidlir as.
“Kamu akan menadapatiku sabar, isnya alloh aku tidak akan mendurhai perintahmu.’’kata musa.
‘’baiklah, Kalau mengikutiku, jangan kamu tanyakan suatu apapun dariku, nanti akan kuterangkan kepadamu sebab-musabanya.”kata khidlir.
Kemudian keduanya berjalan, sehingga keduanya menaiki sebuah perahu. Tiba-tiba khidlir mengambil palu dan merusak lantai perahu.
“Wahai khidlir, mengapa kamu rusak lantai kapal ini, nanti kita semua akan tenggalam. Sungguh kamu berbuat sesuatu yang mungkar!’’ kata musa.
‘’bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan sabar bersamaku!’’ kata khidlir.
‘’maafkanlah aku dan janganlah kamu menyiksaku karena kelupaanku!.kata musa.
 Setelah turun dari kapal, keduanya berjalan bertemu dengan seorang anak kecil, lalu khidlir membunuhnya.
Melihat perbuatan itu, musa berkata :
‘’Wahai musa kenapa kamu membunuh anak kecil yang suci jiwanya,tanpa ada kesalahannya? Sungguh kamu berbuat sesuatu yang mungkar!’’ kata musa.
‘’bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan sabar bersamaku!’’ kata khidlir.
‘’kalau aku menayakan sesuatu lagi setelah ini, maka janganlah kamu menemaniku. Cukuplah kamu memberikan uzur kepadaku!kata musa.
Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan, kemudian menemukan sebuah rumah yang hampir roboh didingnya, tiba-tiba khidlir membantu memperbaikinya.
Sekarang ini adalah perpisahan antara aku dan kamu, sebelumnya akan kuterangkan hal-hal yang kulakukan tadi.
Adapun  aku merobohkan atau merusak lantai perahu itu, karena  disana ada pembajak laut yang akan membajak tiap-tiap kapal  yang bagus, dan kapal ini salah satu kapal yang akan dibajak, jika aku robohkan lantainya, maka kapal ini tidak akan dirampas dengan demikian terpelihara lah perahu mereka.
Adapun anak kecil itu bapak-ibunya mukmin .Aku khawatir kalau anak itu dewasa nanti akan memaksa ibu-bapaknya menjadi durhaka dan kafir. Dengan ku bunuh anak itu berarti aku dapat menyelamatkan orang tua dan anak itu.
Adapun rumah roboh itu adalah kepunyaan dua anak yatim. Dibawah rumah itu ada simpanan harta –benda peninggalan bapaknya sedang bapaknya orang yang sholih. Alloh menghendaki , kalau keduanya dewasa, mereka mengeluarkan harta benda itu sebagai rahmat dari Alloh. 
          Dari Kisah kedua nabi ini mengandung hikmah yang luar biasa untuk kita antara lain:
Setiap kali akan belajar , kita ciptakan kemauan( irodah) yang  kuat dalam diri. Salah satu cara nya adalah aktivitas belajar kita, apabila kita menemukan aktivitas belajar dengan baiak maka akan tercipta semangat dalam diri kita. Rosululloh SAW bersabda : ihrish ‘ala maa yanfa’uka
( bersemangatlah kamu terhadap sesuatu  yang bermanfaat bagimu).
    Bersikap ulet dan gigih dalam belajar
Ulet dan gigih merupakan gambaran mereka yang memiliki kemauan kuat. Dengan keuletan dan kegigihan akan mengubah segala tantangan menjadi pengembangan bagi pemicu dalam pengembangan dirinya.
    Melatih kesabaran dalam belajar. Kesabaran merupakan prasyarat utama musa boleh menajadi muridnya. Musa tidak terlalu memiliki kesabaran dalam mengikuti proses pembelajaran , ia selalu banyak tanya. Padahal sebelumnya telah berpesan kepada musa agar tidak banyak Tanya sebelum khidlir sendiri yang akan memberikan penjelasan.
    Mengasah diri tiada henti atau tekun dalam belajar
Dalam belajar merupakan proses dalam mengasah diri. Ia merupakan proses dalam menghimpun sebanyak-banyaknya ilmu, informasi, pengalaman, sebab tidak ada yang dapat dilakukan kecuali dengan ilmu. Coba kita lihat nabi Musa as, walaupun prediketnya sebagai Nabi ia tetap menagasah diri untuk menambah keilmuanya. Ibnu jauzi berkata : “orang yang cerdas akan berjalan seiering dengan dua temannya yaitu ilmu dan akal “. Imam Al-ghazali pengarang kitab ihyau’ al-‘ulumuddin berkata :” siapa yang mengatakan saya sudah tahu,niscaya ia akan segera bodoh.   
“tidak” jawab musa as. Kemudian Alloh menegurnya, bahwa ada orang yang lebih berilmu dari pada kamu(musa), ia adalah khidir as. Musa lalu (berdoa) memohon petunjuk kepada Alloh swt agar dapat menemui orang tersebut. Lalu, Alloh jadikan ikan sebagai tandanya. Dikatakan kepadanya, ‘’ jika kamu kehilangan ikan ini, kembalilah dan kamu akan menemuinya.’’
Nabi musa asa mengikuti jejak ikan itu di laut ditemani oleh asistennya. Setelah lama berjalan asistenya berkata kepadanya: tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung dibatu tadi, sesungguhnya aku lupa untuk menceritakan tentang ikan itu. Tidak ada yang dapat melupakanku kecuali syetan.’’itulah tempat yang kita cari!” kata musa . lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Akhirnya mereka( musa dan asistennya) bertemu dengan khidir as. Musa berkata: ‘’bolehkah aku mengikutimu supaya kamu menagajarkan ilmu kepadaku!’’.

‘’kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku!’’ kata khidlir as.

“Kamu akan menadapatiku sabar, isnya alloh aku tidak akan mendurhai perintahmu.’’kata musa.

‘’baiklah, Kalau mengikutiku, jangan kamu tanyakan suatu apapun dariku, nanti akan kuterangkan kepadamu sebab-musabanya.”kata khidlir.

Kemudian keduanya berjalan, sehingga keduanya menaiki sebuah perahu. Tiba-tiba khidlir mengambil palu dan merusak lantai perahu.

“Wahai khidlir, mengapa kamu rusak lantai kapal ini, nanti kita semua akan tenggalam. Sungguh kamu berbuat sesuatu yang mungkar!’’ kata musa.

‘’bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan sabar bersamaku!’’ kata khidlir.

‘’maafkanlah aku dan janganlah kamu menyiksaku karena kelupaanku!.kata musa.

 Setelah turun dari kapal, keduanya berjalan bertemu dengan seorang anak kecil, lalu khidlir membunuhnya.

Melihat perbuatan itu, musa berkata :

‘’Wahai musa kenapa kamu membunuh anak kecil yang suci jiwanya,tanpa ada kesalahannya? Sungguh kamu berbuat sesuatu yang mungkar!’’ kata musa.

‘’bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan sabar bersamaku!’’ kata khidlir.

‘’kalau aku menayakan sesuatu lagi setelah ini, maka janganlah kamu menemaniku. Cukuplah kamu memberikan uzur kepadaku!kata musa.

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan, kemudian menemukan sebuah rumah yang hampir roboh didingnya, tiba-tiba khidlir membantu memperbaikinya.

Sekarang ini adalah perpisahan antara aku dan kamu, sebelumnya akan kuterangkan hal-hal yang kulakukan tadi.

Adapun  aku merobohkan atau merusak lantai perahu itu, karena  disana ada pembajak laut yang akan membajak tiap-tiap kapal  yang bagus, dan kapal ini salah satu kapal yang akan dibajak, jika aku robohkan lantainya, maka kapal ini tidak akan dirampas dengan demikian terpelihara lah perahu mereka.

Adapun anak kecil itu bapak-ibunya mukmin .Aku khawatir kalau anak itu dewasa nanti akan memaksa ibu-bapaknya menjadi durhaka dan kafir. Dengan ku bunuh anak itu berarti aku dapat menyelamatkan orang tua dan anak itu.

Adapun rumah roboh itu adalah kepunyaan dua anak yatim. Dibawah rumah itu ada simpanan harta –benda peninggalan bapaknya sedang bapaknya orang yang sholih. Alloh menghendaki , kalau keduanya dewasa, mereka mengeluarkan harta benda itu sebagai rahmat dari Alloh. 

          Dari Kisah kedua nabi ini mengandung hikmah yang luar biasa untuk kita antara lain:

    Setiap kali akan belajar , kita ciptakan kemauan( irodah) yang          kuat dalam diri. Salah satu cara nya adalah aktivitas belajar kita, apabila kita menemukan aktivitas belajar dengan baiak maka akan tercipta semangat dalam diri kita. Rosululloh SAW bersabda : ihrish ‘ala maa yanfa’uka ( bersemangatlah kamu terhadap sesuatu  yang bermanfaat bagimu).
    Bersikap ulet dan gigih dalam belajar

Ulet dan gigih merupakan gambaran mereka yang memiliki kemauan kuat. Dengan keuletan dan kegigihan akan mengubah segala tantangan menjadi pengembangan bagi pemicu dalam pengembangan dirinya.

    Melatih Kesabaran dalam belajar. Kesabaran merupakan prasyarat utama musa boleh menajadi muridnya. Musa tidak terlalu memiliki kesabaran dalam mengikuti proses pembelajaran , ia selalu banyak tanya. Padahal sebelumnya telah berpesan kepada musa agar tidak banyak Tanya sebelum khidlir sendiri yang akan memberikan penjelasan.
    Mengasah diri tiada henti atau tekun dalam belajar

Dalam belajar merupakan proses dalam mengasah diri. Ia merupakan proses dalam menghimpun sebanyak-banyaknya ilmu, informasi, pengalaman, sebab tidak ada yang dapat dilakukan kecuali dengan ilmu. Coba kita lihat nabi Musa as, walaupun prediketnya sebagai Nabi ia tetap menagasah diri untuk menambah keilmuanya. Ibnu jauzi berkata : “orang yang cerdas akan berjalan seiering dengan dua temannya yaitu ilmu dan akal “. Imam Al Ghozali pengarang kitab ihyau’ al-‘ulumuddin berkata :” siapa yang mengatakan saya sudah tahu,niscaya ia akan segera bodoh.  

Hikmah Kematian

Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.
Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.
Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.
Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.
Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.
Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.
Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.
Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.
Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?
Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting
Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya – yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.
Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.
Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.